Peran Ibu dalam Pendidikan Keluarga

Pernikahan adalah “sekolah yang tidak pernah tamat”. Salah satu yang terus menerus diurus dan dipelajari dalam kehidupan berumah tangga adalah bagaimana menyesuaikan diri satu sama lain, agar memperkecil adanya goncangan-goncangan dalam rumah tangga akibat dari tidak adanya kecocokan dalam proses menyesuaikan diri.

Tujuan utama perkawinan adalah mempunyai keturunan yang nantinya diharapkan bisa menjadi penerus generasi. Untuk menghasilkan keturunan yang berkarakter luhur dan sehat, wanita harus ampu membantu suaminya lebih dahulu tetap sehat secara jasmani dan rohani karena hal ini akan berpengaruh terhadap proses pembuahan dalam rahim sang ibu. Jika suami tidak sehat jasmani maupun rohani, maka hasil pembuahan akan dipenuhi bibit-bibit yang tidak baik. Proses yang didasarkan dengan cinta kasih akan menghasilkan keturunan yang tahu cinta kasih dan akan bisa membalas cinta kasih itu. Pun proses yang didasarkan kesehatan jasmani yang sehat akan melahirkan keturunan sehat.

Kewajiban Ibu dalam Pendidikan Keluarga

Merawat dan mendidik anak adalah kewajiban yang paling penting bagi seorang ibu. Sebaliknya, anak akan menjadi cerminan dari proses pendidikan yang dihasilkan seorang ibu. Bila baik pendidikan itu, akan baik pula sang anak. Jika saja di dunia ini penuh dengan manusia yang baik dari proses pendidikan anak oleh ibu yang baik, maka kehidupan akan damai, tidak akan ada kejahatan seperti pembunuhan, perampokan, huru-hara dan lain sebagainya.

Dalam proses yang benar, sepatutnya seorang ibu melakukan pola pendidikan yang mempertumbuhkan bidang jasmani, rohani dan mental. Ketiga unsur ini harus dikembangkan secara seimbang. Pendidikan rohani harus dikembangkan sejak dini. pendidikan anak sebelum lahir yang lebih dikenal dengan istilah “Prenatal Education” malah yang paling utama, karena proses sejak dini itu dapat menentukan watak dari manusia yang akan lahir.

Pada proses pendidikan anak sebelum lahir semisal saat kandungan mencapai tujuh bulan dibuat upacara megedong-gedongan atau nujuh bulanin. Saat hamil sang ibu harus rajin sembahyang, bertingkah laku sopan hingga bertutur kata santun. Sejak dari dalam kandungan anak sudah dibekali pendidikan rohani, namun sampai lahir pun ajaran rohani tetap diteruskan melalui pengetahuan tentang agama, etika dan lainnya.

Pendidikan anak dalam bidang rohani memang harus didapatkan dalam keluarga khususnya dari ibu. Sebab, ikatan lahir batin yang paling kuat yang dimiliki oleh anak adalah dengan ibunya. Selama sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan, maka interaksi sosial anak lebih banyak dengan ibunya. Bahkan setelah lahir interaksi itu makin keras. Maka, sepatutnyalah seorang ibu menjadi panutan yang baik bagi anak-anaknya. Ibarat kertas putih, anak yang baru lahir mau dijadikan apapun adalah hak dari ibu. Di tangan ibulah proses pendidikan anak akan berjalan.

Pendidikan anak yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah pendidikan anak bidang jasmani. Seorang ibu harus cermat memberikan pendidikan jasmani bagi anaknya untuk meningkatkan kesehatan, guna memajukan perkembangan mental yang kuat dan karakter yang baik. Tanpa kesehatan, orang tak akan bisa melaksanakan kegiatan-kegiatan rutinnya. Untuk mendapatkan badan yang sehat, ibulah yang berperan menyediakan makanan yang bergizi dan seimbang. Setidaknya, pantaslah seorang ibu mesti pandai memasak makanan yang lezat dan menyehatkan. Selain itu, perlu juga diajarkan olah raga untuk menjaga kesehatan jasmani anak.

Kreatif dan Inovatif dalam Mendidik

Pendidikan anak yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan mental. Karena, penentuan karakter dari anak itu sendiri bisa melalui bacaan-bacaan tentang pengetahuan budi pekerti, etika agama, dll. Seorang ibu harus kreatif dan inovatif dalam mendidik anak agar menghasilkan anak yang berkarakter baik.

Berat sekali memang peran ibu dalam pendidikan keluarga jika diteropong dengan sistem pendidikan yang benar. Namun kenyataannya, sering kali dirasakan penghargaan kepada ibu tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan. “Itu sudah kewajiban ibu”, itu yang sering terdengar. Artinya, itu sebagai pembenar bahwa dalam proses memang ibulah yang harus berkewajiban melakukannya.

Kewajiban yang berganda-ganda bahkan juga tidak bisa diukur waktu, dari matahari belum terbit sampai terbenam, dengan tulus dilakukan oleh ibu demi kebahagiaan rumah tangganya.

Dari berbagai sumber.

Tentang kh4lim4h

Berbagi tentang Pendidikan dan Keluarga
Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Pendidikan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s